BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Selasa, 27 Desember 2011

PERBANYAKAN DAN PERKEMBANGAN TANAMAN SECARA VEGETATIF BUATAN

Disusun oleh:

· Crighory Sektya J3G111011

· Ghina Shadrina J3G111037

· Ujang Samsudin J3G111052

· Shelomita br Pinem J3G111060

· Ahmad Nasri Aphami J3G111080

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH

PROGRAM DIPLOMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perbanyakan tanaman merupakan serangkaian kegiatan yang diperlukan untuk menyediakan materi tanaman baik untuk kegiatan penelitian maupun program penanaman secara luas. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara vegetatif. Dengan penerapan teknik pembiakan vegetatif akan diperoleh bibit yang memiliki struktur genetik yang sama dengan induknya (Na’iem,1999), sehingga penggunaan materi genetik yang unggul sebagai bahan untuk perbanyakan merupakan kunci untuk menghasilkan anakan yang berkualitas. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus. Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan cara mencangkok, setek, rundukan, dan kultur jaringan.

Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbayakan yang digunakan cangkokan atau rundukan.

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Vegetatif

Pembibitan secara vegetatif merupakan pembibitan yang menggunakan bagian vegetatif tanaman (daun, tunas, batang, akar, jaringan, organ) dapat menjadi alternatif bagi industri bibit karena tidak tergantung pada musim buah. Keberhasilan pembibitan sangat dipengaruhi oleh kecocokan metode, kondisi lingkungan, dan jenis tanaman (Djam’an, 2009).

Perbanyakan tanaman secara vegetatif sangat penting artinya untuk pengembangan klon dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pemuliaan pohon karena, karanannya yang sangat besar dalam meningkatkan perolehan genetik bandingkan dengan benih hasil, penyerbukan alam (Shelbourne, 1992 dan Rimbawanto, 2000).

Tujuan Perkembangan dan Perbanyakan Vegetatif

1. Untuk menghasilkan anakan yang berkualitas

2. Untuk memperoleh anakan yang seragam

3. Untuk mendapatkan produksi lebih cepat

Metode dalam perkembangan vegetatif

Terdapat beberapa teknik pembiakan vegetatif yang banyak diterapkan untuk menghasilkan bibit pada jenis-jenis tanaman. Penerapan teknik-teknik tersebut tergantung pada tujuan penanaman dan kemampuan masing-masing jenis untuk diperbanyak secara vegetatif (Hartmann et al., 1990). Beberapa metode dalam perkembangan vegetatif, yakni:

A. Mencangkok (air layering)

Mencangkok merupakan teknik yang dlakukan untuk mendapatkan anakan sebagai bahan tanaman dalam pembangunan bank klon, kebun benih klon, kebun persilangan karena dengan teknik ini bersifat dewasa sehingga lebih cepat berbunga dan berbuah.

Cangkok sangat cocok dilakukan pada tanaman buah-buahan yang batangnya berkayu, seperti mangga, jeruk, jambu biji, belimbing manis, lengkeng, serta tanaman hias seperti bugenvil, mawar, dan kemuning (Redaksi AgroMedia, 2008).

Pencangkokan dilakukan dengan cara menyayat dan mengupas kulit sekekeliling batang, lebar sayatan tergantung dengan jenis tanaman yang dicangkok. Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan kambiumnya dapat dihilangkan (dengan cara dikikis). Setelah luka yang dibuat cukup kering, Rootone-F diberikan sebagai perlakuan agar bahan cangkokan cepat berakar. Media yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos kemudian dibalut dengan sabut kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah menghasilkan sistem perakaran yang bagus, batang dapat dipotong dan bisa langsung dipindah tanamkan.

Menurut Rochiman dan Harjadi (1973), hal yang erlu di perhatikan dalam pencangkokan tanaman adalah:

(1) waktu mencangkok, sebaiknya dilakukan pada musim hujan agar tidak melakukan penyiraman berulang-ulang.

(2) Memilih batang cangkok, pohon induk yang digunakan adalah yang umumnya tidak terlalu tua atau terlalu muda, sehat, kuat dan subur serta banyak dan baik buahnya.

(3) pemeliharaan cangkokan, pemeliharan sudah dikatakan cukup apabila media cangkokan cukup lembab sepanjang waktu.

Keunggulan cangkok adalah mudah dlakukan, dan tingkat keberhasilannya tinggi. Selain itu, tanaman yang dihasilkan dapat pohon mewarisi 100% sifat induknya.namun, tanaman hasil cangkok juga memiliki kelemahan, yaitu percabangannya tidak lebat dan tidak kompak, serta produktivitas buahnya terbatas.

B. Stek

Keberhasilan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name atau true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor intern yaitu dari tanaman itu sendiri dan ekstern yaitu dari lingkungan sekitar. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh. Faktor intern yang paling penting dalam mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk pada stek adalah faktor genetik. Jenis tanaman yang berbeda mempunyai regenerasi yang berbeda pula. Untuk menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan cara stek, tanaman sumber seharusnya memiliki sifat-sifat unggul serta tidak terkena hama dan penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi. Kondisi lingkungan dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber diantaranya:

a. Status air. Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam keadaan turgid.

b. Temperatur. Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12°C hingga 27°C.

c. Cahaya. Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman sumber tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat.

d. Kandungan karbohidrat. Untuk meningkatkan kandungan karbohidrat bahan stek yang masih ada pada tanaman sumber bisa dilakukan pengeratan untuk menghalangi translokasi karbohidrat. Pengeratan juga berfungsi menghalangi translokasi hormon dan substansi lain yang mungkin penting bagi pengakaran. Sehingga terjadi akumulasi zat-zat tersebut pada bahan stek. Karbohidrat digunakan dalam pengakaran untuk membangun kompleks makromolekul. Elemen struktural dan sebagai sumber energi. Walaupun kandungan karbohidrat dalam bahan stek tinggi, tetapi jika rasio C/N rendah maka inisiasi akar juga akan terhambat karena unsur N berkorelasi negatif dengan pengakaran stek (Hartmann et al., 1997).

Faktor lingkungkan tumbuh stek yang cocok sangat berpengaruh pada terjadinya regenerasi akar dan pucuk. Lingkungan tumbuh atau media pengakaran seharusnya kondusif untuk regerasi akar yaitu cukup lembab, evapotranspirasi rendah, sistem drainase dan aerasi baik, suhu tidak terlalu dingin atau panas, tidak terkena cahaya penuh, dan bebas dari hama atau penyakit.

Ada beberapa Teknik dalam metode stek, yaitu:

1. Stek batang

Stek batang dilakukan dengan cara diambil dari batang atau cabang pohon induk. Beberapa tanaman yang bisa di perbanyak dengan teknik ini diantaranya kedondong, jambu air, jeruk, bougenvil, kembang sepatu, mawar, dan melati.

Kadang-kadang stek batang yang ditanam sulit mengeluarkan akar sehingga perlu diberi perlakuan khusus (Redaksi AgroMedia, 2008). Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merangsang pertumbuhan akar;

a. Mengerat Batang

Pengeratan dilakukan agar cabang yang distek memiliki kandungan karbohidrat dan auksin yang cukup untuk membentuk akar. Pengeratan dilakukan 1-2 bulan sebelum cabang dipotong.

b. Mengetiolasi Batang

Etiolasi dilakukan dengan cara membungkus bagian cabang stek dengan kertas, plastik atau kain. Warna pembungkus sebaiknya hitam agar cahaya matahari tidak dapat menembus kulit cabang yang dibungkus sehingga zat klorofil hilang dan zat auksin berkumpul.

c. Menggunakan Hormon Tumbuh

Secara alami tanaman menghasilkan hormon tumbuh sendiri, yaitu auxin. Hormon auxin yang dapat digunakan berupa IBA, IAA, atau NAA.

2. Stek pucuk (leafy cuttings)

Stek pucuk adalah metode perbanyakan vegetatif secara makro dengan menumbuhkan terlebih dahulu tunas-tunas axilar pada media persemaian sampai berakar sebelum dipindahkan ke lapangan

Dalam perkembangannya teknik ini dilakukan dengan menggunakan matei yang berukuran kecil sehingga dikenal mini cuttings dan micro cuttings seperti telah dikembangkan secara komersial untuk jenis Eucalyptus spp di brazil.

3. Stek akar

Umunya bahan stek akar yang diambil adalah akar sekunder yang terbuka dan telah menumbuhkan tunas baru serta potongan akar sekunder. Cara yang dilakukan adalah dengan menggali dan memotong bagian akar sekunder. Apabila bahan stek yang diambil berasal dari bagian akar yang telah menumbuhkan tunas yaitu dengan cara menggali tanah sekitar tegakan,setelah terubusan akar terlihat baru dilakukan pemotongan bagian akar dengan menyisakan sebagian akar dan sebagian akar, sehingga berbentuk stump yang siap ditanam dalam polybag.

4. Stek Daun

Bahan awal perbanyakan yang dapat digunakan untuk stek daun berupa lembaran daun. Bahan awal stek daun tidak akan menjadi bagian dari tanaman baru. Penggunaan bahan yang mengandung kimera peiklinal dihindari agar tanaman-tanaman baru yang dihasilkan bersifat type to type (Hartmann et al., 1997).

Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer atau meristem skunder. Masalah pada stek daun umumnya adalah pembentukan tunas-tunas adventif, bukan akar adventif. Pembentukan akar adventif pada daun lebih mudah dibanding pembentukan tunas-tunas adventif.

Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjan 7,5-10 cm atau memotong daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann et al., 1997).

5. Stek Umbi

Pada stek umbi, bahan yang digunakan adalah umbi batang, umbi akar, umbi sisik dan lain-lain. Sebagai bahan perbanyakan, umbi dapat digunakan utuh atau dipotong-potong dengan syarat setiap potongannya mengandung calon tunas. Untuk menghindari busuk pasa setiap potongan umbi, maka umbi perlu dierandap bakterisida dan fungisida.

C. Menempel (okulasi)

Perbanyakan tanaman dengan cara okulasi paling banyak dilakukan dalam perkebunan terutama pada perkebunan karet dan kakao. Beberapa kelebihan dari perbanyakan tanaman dengan cara okulasi yaitu :

(1) Dengan cara diokulasi dapat diperoleh tanaman yang dengan produktifitas yang tinggi.

(2) Pertumbuhan tanaman yang seragam.

(3) Penyiapan benih relatif singkat.

(4) Pada musim gugur daun pada tanaman karet daun yang gugur dari satu klon agar serentak pada waktu tertentu, dengan demikian akan memudahkan pengendalian penyakit Oidium hevea bila terjadi.

Kelemahan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara okulasi yaitu :

(1) Terkadang suatu tanaman hasil okulasi ada yang kurang normal terjadi karena tidak adanya keserasian antara batang bawah dengan batang atas (entres)

(2) perlu menggunakan tenaga ahli untuk pengokulasian ini.

(3) Bila salah satu syarat dalam kegiatan pengokulasian tidak terpenuhi kemngkinan gagal atau mata entres tidak tumbuh sangat besar.

Syarat tanaman dapat diokulasi yaitu :

(1) Tanaman tidak sedang Flush (sedang tumbuh daun baru)

(2) Antara batang atas dan batang bawah harus memiliki umur yang sama.

(3) Tanaman harus masih dalam satu family atau satu genus.

(4) Umur tanaman antara batang atas dan batang bawah sama.

(5) Pada klon yang dijadikan batang bawah memiliki perakaran yang kuat/kokoh, tidak mudah terserang penyakit terutama penyakit akar, mimiliki biji/buah yang banyak yang nantinya disemai untuk dijadikan batang bawah, umur tanaman induk pohon batang bawah yang biji/buahnya akan dijadikan benih untuk batang bawah minimal 15 tahun, memiliki pertumbuhan yang cepat.

(6) Pada klon yang akan dijadika batang atas atau entres tanaman harus memiliki produksi yang unggul, dan memiliki pertumbuhan yang cepat, dan tahan terhadap penyakit.

D. Penyambungan (grafiting)

Grafiting adalah seni penyambungan 2 jaringan tanaman hidup sedemikian rupa sehingga keduanya bergabung dan tumbuh serta berkembang sebagai satu tanaman gabungan. Teknik apapun yang memenuhi kriteria ini dapat digolongkan sebagai metode grafiting.

Perbanyakan secara grafiting merupakan teknik perbanyakan yang mahal karena memelukan banyak tegana terlatih dan waktu. Teknik ini dipilh dengan pertimbangan untuk memperbanyak tanaman yang tidak bisa atau sukar diperbanyak dengan cara stek, rundukan, pemisahan atau dengan cangkok. Menurut Ashari (1995), banyak jenis tanaman yang sukar untuk diperbanyak dengan cara-cara tersebut. Tetapi mudah dilakukan denga penyambungan. Misalnya pada belimbing, mangga, manggis jeruk dan durian.

Penyambungan dilakukan dengan cara menyambungkan scion berupa bagian pucuk atau tunas dari tajuk pohon pius pada tanaman batang bawah yang telah disediakan. Cara ini banyak dilakukan pada singkong dan buah-buahan. Mula-mula biji disemaikan. Setelah tumbuh lalu disambung dengan ranting/cabang dari pohon sejenis yang buahnya baik. Kemiringan potongan kurang lebih 45°. Diameter batang atas harus sesuai dengan diameter batang bawah. Kedua sambungan itu diikat dengan kuat. Diusahakan agar tidak terjadi infeksi. Buah yang dihasilkannya akan sama dengan buah yang dihasilkan pohon asalnya.

Alasan lain melakukan grafiting menurut Hartmann (1997), yaitu:

(1) untuk memperoleh keuntungan dari batang bawah tertentu, seperti perakaran kuat, toleran terhadap lingkungan tertentu.

(2) mengubah kultivar dari tanaman yang telah berproduksi, yang disebut top working.

(3) mempercepat kematangan reproduktif dan produksi buah lebih awal.

(4) mempercepat pertumbuhan tanaman dan mengurangi waktu produksi.

(5) mendapatkan bentuk pertanaman khusus.

(6) memperbaikin kerusakan tanaman.

Aplikasi grafiting juga dapat dilakukan untuk membuat satu tanaman dengan jenis yang berbeda-beda, untuk mengatasi masalah polinasi dalam kasus self-incompability atau tanaman berumah dua (Ashari, 1995).

E. Kultur jaringan (tissue culture)

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
(1) Pembuatan media
(2) Inisiasi
(3) Sterilisasi
(4) Multiplikasi
(5) Pengakaran
(6) Aklimatisasi

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.

Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.

Keuntungan Pemanfaatan Kultur Jaringan yaitu:

(1) Pengadaan bibit tidak tergantung musim.

(2) Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (darisatu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit).

(3) Bibit yang dihasilkan seragam.

(4) Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu).

(5) Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah.

(6) Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya.

Kultur jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman) tumbuh menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas).
Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu, dan
tanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat sama atau seragam dengan induknya. Contoh tanaman yang sudah lazim diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman anggrek.

PEMBAHASAN

Tempat Tumbuh Biakan Vegetatif

Tempat tumbuh yang dibutuhkan disesuaikan dengan jenis tanaman dan metode yang digunakan (stek, okulasi, sambung dan grafiting), masing-masing memerlukan kondisi khusus.

Beberapa model tempat tumbuh yang telah digunakan dalam pembuatan bibit, diantaranya ADH1 (Abidin dkk, 2007), KOFFKO (Subiakto et al., 2005) dan rumah kaca dengan masing-masing kriteria yaitu:

1. Model ADH1, dalam hal ini pengendalian intensitas cahaya, suhu dan kelmbaban secara manual

2. Teknik KOFFKO digunakan untuk jenis-jenis yang membutuhkan kondisi khusus seperti intensitas cahaya optimal, kondisi suhu yang stabil, dengan kelembaban tinggi.

3. Pembuatan okulasi dapat dilaksanakan di dalam rumah kaca atau di persemaian, berupa bedengan dengan naungan yang cukup untuk menghindar dari penguapan maupun curahan air hujan.

Media

Untuk perkembangan dan pebanyakan secara Vegetatif terutama untuk stek dan cangkok dapat menggunakan campuran media alami (Tanah, pasir, air), pupuk organik (kotoran binatang, tanaman), atau limbah organik (sabut kelapa, sabut kelapa sawit, arang sekam padi, gambut). Media diperlukan sebagai tempat untuk berpijak tanaman, mampu mengikat air dan unsur hara, mempunyai drainase dan aerasi yang baik, dapat mempertahankan kelembaban di sekitar akar tanaman, tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman, mudah didapat dan harganya relatif murah.

Sedangkan untuk pembibitan secara kultur jaringan diperluka 2 macam media dasar yaitu sebagai media multiplikasi tunas dalam keadaan steril (didalam laboratorium) menggunakan media agar dengan penambahan gula, unsur mikro, unsur makro dan Zat pengatur tumbuh (Djam’an, 2009)

Keuntungan Teknik Pembiakan Vegetatif

1. Memanfaatkan potensi variasi secara genetik total untuk meningkatkan produksi, yakni dengan penerapan teknik pembiakan vegetatif kinerja genotif yang baik dari induknya akan dapat diulangi secara konsisten pada keturunannya.

2. Cara untuk perbanyakan tanaman hasil persilangan yang memiliki pertumbuhan sangat baik atau luar biasa.

3. Mengatasi kekurangan benih untuk memproduksi bibit di persemaian.

4. Kemudahan dalam perbanyakan, dapat dilakukan dengan penerapan teknologi yang murni serta pelaksanaannya bisa dilakukan secara kontinu.

5. Sifat tanaman baru akan sama persis dengan induknya

6. Lebih cepat berproduksi

Kerugian Teknik Pembiakan Vegetatif

1. Tanaman yang berasal dari stek ataupun mencangkok umumnya mempunyai sistem perakaran yang kurang kuat

2. Perkembangbiakan secara vegetatif dapat menghasilkan sedikit keturunan.

3. Bila tanaman hasil reproduksi vegetatif dipotong ranting-rantingnya maka dapat menyebabkan menurun pertumbuhannya.

















































0 komentar: